Kapal Pesiar Datanglah...
24/10/2017
Kapal Pesiar Datanglah...
Senang mendengar bpk Presiden baru aja meresmikan pantai Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah NTB. Pembangunan kawasan resort ini dlm rangkaian pemenuhan target 10 destinasi wisata prioritas beyond Bali. 9 lainnya adalah Labuan Bajo, Morotai, Tanjung Kelayang, Danau Toba, Wakatobi, Gunung Bromo, Candi Borobudur, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu.
Pencanangan pembangunan kawasan wisata Mandalika ini sdh cukup lama kira" 29 tahun yang lalu dan kini dengan sentuhan tangan midas pak Jokowi dapat terwujud. Dengan harapan objek wisata ini sebagai salah penyumbang terpenuhinya target 20 juta wisatawan asing pada tahun 2019.
Ada hal yg menarik dari 10 destinasi wisata baru tsb terdapat 8 kawasan wisata berbasis resort yg bersentuhan dgn laut atau perairan. Artinya pengambil kebijakan telah sadar bahwa masa depan Indonesia itu ada dilautan termasuk pariwisata. Sebagai negara kepulauan yg terdiri dari 2/3 lautan maka sudah saatnya kita segera (walaupun rada terlambat) melihat laut sebagai penyambung bukan pemisah daratan Indonesia.
Dalam kurun 3 tahun pemerintahan Jokowi dgn berbagai kebijakan guna menunjang bidang kepariwisataan seperti kebijakan Bebas Visa Kunjungan, pembangunan infrastruktur airport, pelabuhan, jalan tol dan akses menuju kawasan wisata dan pembenahan kawasan wisata itu sendiri maka telah terjadi peningkatan arus wisatawan asing dari tahun ke tahun. Sektor pariwisata telah berada diurutan kedua setelah Crude Palm Oil (CPO) sebagai penyumbang devisa terbesar, mengalahkan sektor migas dan batubara.
Hal ini cukup membanggakan karena sektor pariwisata merupakan sektor yg sangat resilien yg tidak terpengaruh dengan kondisi ekonomi dunia. Walaupun resesi melanda, orang akan tetap melancong krn berwisata sdh menjelma menjadi suatu kebutuhan seperti basic need bagi kehidupan.
Kondisi ini harus terus dijaga momentumnya dan senantiasa ditingkatkan sarana dan prasarananya agar sektor pariwisata menjadi primadona dalam menopang pembangunan nasional. Walaupun sudah meningkat, pada kenyataannya sektor pariwisata kita belumlah begitu kuat dan mature. Cukup banyak contoh ketika objek wisata baru dibuka sangat banyak pengunjungnya namun bbrp tahun kemudian menjadi sepi karena fasilitasnya kurang terawat dan terpelihara dengan baik.
Kemampuan untuk mengelola dan membuat inovasi wahana baru pada suatu objek wisata harus konsisten dilakukan dan ditingkatkan sehingga menjadi gimmick menarik orang utk kembali dan mengajak orang lain datang berkunjung.
Dan satu hal lagi kita jangan cepat berpuas diri. Pertumbuhan kunjungan wisatawan asing tsb pada hakikatnya masih jauh dengan potensi kewisataan kita dlm bersaing dengan negara tetangga. Dengan objek wisata yg terbatas bbrp negara tetangga sudah jauh berkali lipat jumlah wisatawan asingnya dibanding negara kita. Thailand mampu menjaring 35 juta wisatawan pertahun, Malaysia 28 juta dan Singapore sbg negara kota yg kecil, kedatangan wisman yg sama jumlahnya dgn negara kepulauan besar Indonesia yakni 16, 4 juta.
Kita sebaiknya mencari tahu lebih jauh kenapa wisatawan asing lebih tertarik berkunjung ke negara tetangga. Apakah semata2 faktor infrastruktur dan konektivitas atau juga oleh faktor lainnya.
Kalau kita lihat differensiasi yg paling kentara dgn negara tetangga salah duanya adalah keanekaragaman budaya dan wisata bahari Indonesia yg lebih kaya dan beragam. Promosi budaya mungkin lebih mudah dilakukan dgn mengemas tampilan dan menyediakan berbagai event sbg panggung utk performnya.
Untuk promosi wisata bahari membutuhkan investasi yg besar. Tidak hanya airport yg memadai hingga ke titik terdekat pulau bahari juga akses jalan raya yg mulus dan pelabuhan laut yg mampu menampung sandar kapal laut yg bertonage besar. Selain itu membutuhkan pembangunan kawasan resort yg bersih, lengkap dan nyaman serta pembinaan warga masyarakat agar sadar wisata.
Pembenahan sektor wisata bahari ini cukup penting dan aku memberanikan diri utk mengulasnya dilaman FB karena ada fenomena yg menarik di belahan dunia lain khususnya wisatawan yg berasal dari jerman.
Pada suatu ketika, untuk mengenal dan mengetahui lebih jauh negara akreditasi, aku membuka laman asosiasi biro wisata Jerman dgn alamat: www.drv.de/fachtemen/statistik-und-marktforschung.
Aku kaget bukan kepalang dalam kurun tahun 1995 sd tahun 2016 telah terjadi peningkatan wisatawan Jerman yg naik kapal pesiar sebesar 809 %. Pada tahun 1995 hanya 309.000 wisatawan Jerman yg cruising dgn kapal pesiar dan 20 tahun kemudian terjadi lonjakan mencapai 2.500.000 wisatawan cruising ditahun 2016.
Namun kapal pesiar yg ditumpangi umumnya cruising di Laut Utara Eropa dan laut Tengah yg dikelilingi oleh 3 benua (Afrika, Eropa dan Asia) yg beriklim subtropis. Sangat sedikit yg cruising berkunjung ke negara tropis. Apakah karena terlalu jauh atau karena belum banyak tawaran promosi yg menarik dari negara2 tropis yg memiliki wisata bahari?
Prediksiku, lonjakan tersebut terjadi tidak hanya karena kondisi perekonomian Jerman yg semakin kuat namun juga karena telah terjadi population ageing di negara Frau Merkel tsb. Yg mana secara demografi laju bertambahnya populasi penduduk yg berusia tua (nonproduktif) lebih banyak dibanding yg berusia muda (produktif). Population ageing terjadi karena tingkat kelahiran yg rendah dan meningkatnya tingkat harapan hidup penduduk.
Korelasinya dengan wisata kapal pesiar adalah dengan waktu cruising kapal yg cukup lama bahkan berbulan-bulan dan berbiaya sangat mahal, hanya orang berduit dan tidak bekerjalah (pensiun) yg bisa dan mampu utk menikmati pesiar dgn kapal besar tsb.
Fenomena population ageing ini tidak hanya terjadi di Jerman tapi umumnya di negara maju di Eropa bahkan negara tetangga Singapura pun sdg mengalami problem yg sama. Tanpa mencoba mencari data statistik dari negara Belanda, Inggeris, Perancis, Findlandia, Benelux dll, aku rasa telah terjadi juga peningkatan signifikan jumlah wisatawan cruising dgn kapal pesiar di berbagai negara tersebut.
Budaya barat yg individualis, cukup berbeda dengan budaya timur yg komunal dalam menjalani hidup menghabiskan masa tuanya. Dihari tua mereka menikmati hidup dgn berjalan2 keliling dunia sementara orang tua kita sibuk menjual dan mengumpuli harta untuk naik haji, menyekolahkan dan menikahkan anak serta menimang dan menjaga cucu.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah Indonesia, praktisi dan pengusaha di bidang pariwisata. Dengan datangnya wisman kapal pesiar dari Jerman dan Eropa sekitar 10 % saja sangat signifikan dalam pemenuhan target 20 juta wisman di tahun 2019.


Comments
Post a Comment