Bacan Berlin: Batu (tidak) Cantik Berlin
24/05/2017
Bacan Berlin: Batu (tidak) Cantik Berlin
(My life story staying abroad)
Berlin (23/05). Beberapa tahun lalu para lelaki banyak kecanduan aksi menggosok, memicing, mengeker, mengedip dan mengintip bongkahan batu. Berlagak seperti ahli nujum melihat guratan dan buliran batu. Mempersonifikasikan aura transedental kandungan batu dan mematutnya setelah menjadi batu cantik (bacan) dengan calon pemakai batu cincin (bacin).
Temanku yg dulunya hidup hemat dan cenderung medit tiba2 menjadi royal kalau lagi cerita tentang batu. Kami ditraktir ngopi agar dia dapat kesempatan menjelaskan berjam2 hikayat sang batu sejak proses sublimasi beratus tahun yang lalu, terbentuknya guratan dan alur yg punya nilai mistis, penggunaan efek pencahayaan melihat aura tersembunyi, ekspedisi pencarian, penggalian, penggosokan hingga penentuan harga untuk diikat dalam balutan besi cincin.
Saking banyaknya yg kegandrungan berburu batu hingga majelis arisan warga di kampungpun harus bekerja keras mempertahankan membersnya agar tidak pindah kelain hati bergabung dgn majelis baru yg lagi ngetrend yg jamaahnya sangat militan, setia dan possesif.
"Coba lihat air ini, warnanya bening ya. Klo dimasukkan batu cincin ini air bisa berubah menjadi warna biru. Warna yg melambangkan keteduhan dan ketenangan. Klo kalian pakai bacin ini perasaan kalian selalu tenang..ademm, "kata penggila bacin yg sdh rada2. Klo lagi bokek apakah masih bisa tenang ya dgn pake bacin ini, tanyaku dalam hati.
Pada jaman gila batu, satu jari manis dalam kepalan lima jari terasa kurang bagi penggila bacin. Semua jari mereka tiba2 berubah menjadi jari manis. Semua diikat dengan batu cincin beraneka rupa dan warna.
Ada bacin ditelunjuk utk nambah wibawa, diselipkan dijari tengah utk tolak bala, direkatkan pada jari manis sbg pemikat wanita, jari kelingking agar murah rejeki, dan jari jempol buat terapi. Lengkaplah sudahh…
Kalau lagi ngomong, biasanya dulu tangannya disaku, kini tangan diangkat tinggi menjelaskan dengan penuh wibawa seperti para ahli sambil membolak balik jari jemari agar keliatan kilauan banyak bacin warna warni.
"Kawan, dengar…kalo kalian pengen karirnya cepat naik, waktu menghadap bos pakailah bacin ini. Bos akan senang..semua urusan lancar. Kalian minta promosi jabatan akan dikasih, "kata penggila batu yg sudah kena gejala flinstone effect. Sangat dramatis dan kadang diluar nalar.
"Tau gak..klo makan sambil pake cincin ini perut kalian bisa kenyang. Dan klo minum pake cincin ini haus pasti ilang," celotehnya yg sdh diatas rada2 gokil. Ya iyalah…kagak pake cincin juga bisa kenyang...semprulll.
Mengetahui gejala akut ini, akupun mahfum ketika ada temanku pesan tlg bawain batu dong dari Berlin kalau pulang. Aku berasumsi dia pasti minta dibawain batu cincin. "Batu Jerman ya," kataku memastikan.
"Bukan batu Jerman.. tapi batu Berlin. Belinya di toko souvenir di daerah Check Point Charlie, " tegasnya. Apa ada batu Berlin ya? Seingatku gak ada batu cincin khas Berlin tp aku coba mampir kalau lewat daerah objek wisata tsb.
Mencoba masuk ke dalam toko souvenir dan lihat2 barang dagangan yg dijual, aku melihat tumpukan batu yg dilapisi plastik bening. Ada ukuran kecil, sedang dan agak besar segenggaman tangan. Hmm…mungkin ini yg dimaksud batu yg dpt digosok menjadi cincin itu.
Bahan luarnya kasar dan pinggirannya gak beraturan tetapi permukaannya rata. Warnanya berwarna warni. Pasti cukup mahal dan bila digosok akan menghasilkan pendaran warna dan cahaya yg bagus, gumamku.
Aku perhatikan kisaran harganya yg kecil € 9,95 yg sedang €14,95 dan paling besar € 19,95. Hmm…gak terlalu mahal utk harga sebuah batu bakal cincin ukuran Jerman pikirku. Masih wajarlah sebagai oleh2. Kemudian kubaca nama souvenir itu Original Berliner Mauer. Apa ya artinya Mauer.
Aku lihat kamus google translate Jerman ~ Indonesia, dan ketik Mauer artinya adalah "Tembok". Ya benar artinya adalah tembok, kawan. Tembok Berlin Asli. Sekali lagi aseli. Bujubuneee…harga serpihan (bukan bongkahan batu) dihargai sebesar itu. Kalau dirupiahkan yg paling gede hampir Rp 300.000,-.
Ini lebih gendeng lagi daripada orang Indonesia yg gila bacin pikirku. Serpihan batu bisa menjadi dianggap berharga hanya karena ada label peristiwa sejarah yg ditulis dilapisannya. Apakah pembeli bisa percaya begitu saja kalau beneran itu reruntuhan tembok Berlin? Dan kalaupun benar, ngapain juga membelinya.
Ternyata kawan, 155 kilometer panjang tembok Berlin dengan tinggi 4 meter yg membelah Jerman Barat dan Timur saat perang dingin dahulu tidak dibuang begitu saja reruntuhannya.
Dengan reunifikasi kedua Jerman yg ditandai dengan diruntuhkannya tembok sialan tsb, negara Jerman yg baru tidak begitu saja membuang material bersama dgn kenangan getir yg tersimpan di dalamnya.
.
Untuk mengenang sejarah pahit tidak sekedar dibuatkan monumen atau museum tetapi kepingan material sejarah yg tidak berguna akan punya makna dan bernilai ketika dilabeli suatu peristiwa dibaliknya.
Ketika tidak ada tulisan Original Berliner Mauer, serpihan batu itu tidak berharga sama sekali dan orang yg menyimpan atau memajangnya mungkin dapat diduga kena gejala flinstone effect.
Kesimpulanku terhadap gejala orang gila batu di Jerman dan Indonesia adalah terdapat suatu persamaan yakni memberikan nilai harga yg cukup tinggi diluar logika awam dan perbedaannya adalah orang Jerman mengemas batu dalam bingkai sejarah bangsanya dan orang Indonesia mengemas dalam bingkai imajimasinya.
Dan Einstein pernah bilang bahwa imajinasi itu mengalahkan ilmu pasti. Hebat juga ya Einstein…eh imajinasi.




Comments
Post a Comment