Kiblatnya para Gibol
Kiblatnya para Gibol
Munchen, 18/03/18. Setiap kali aku melihat megahnya stadion olah raga dibeberapa negara Eropa, aku sangat kagum tidak hanya karena arsitekturnya yg indah juga karena kepiawaian pengelola gedung menghelat acara dan mengatur arus kerumunan serta pengendalian ulah penonton fanatik sepak bola (crowd management). Lihatlah ketika event akan berlangsung, penjualan tiket online jauh-jauh hari sudah ditawarkan dgn pembatasan jumlah penonton sesuai kapasitas gedung. Seluruh moda transportasi publik tersedia dari segenap penjuru mata angin menuju stadion. Kendaraan pribadi bahkan bagi pejalan kaki diberikan akses mudah mencapai stadion.
Secara bersamaan puluhan bahkan ratusan ribu holigan berdatangan masuk melalui banyak alur antrian dari halaman luar hingga pintu masuk ibarat barisan semut berbondong memburu manisnya aroma cicipan. Eskalasi kedatangan diatur secara perlahan, merangsek, berdesakan dan memadat namun tetap mengalir masuk berputar dari satu lorong ke lorong barisan lainnya hingga menuju lokalisasi compound pendukung klub kesayangan masing-masing.
Keselamatan penonton yg rentan secara fisik turut diperhatikan. Pengelola membuat jalur masuk khusus utk perempuan dan penyandang kursi roda (bukan karena berbeda muhrim ya..he.he.). Tak lupa disediakan banyak tenaga paramedik yg standby setiap saat bila terjadi kecelakaan yg tak terduga.
Ritual ini merupakan tawaf pertama yang dilakukan para pendukung klub saat memasuki arena stadiun. Begitu masuk ke dalam gedung stadion, penonton mencari row (shaf) tempat duduknya sesuai dengan nomor bangku yg tersedia di dalam tiket. Melintang lurus rapi berdampingan. Bila masih ada waktu yg cukup dapat kongkow-kongkow dahulu di cafetaria atau belanja merchandise pada galery store stadion.
Kalau pengen tahu sejarah klub sepakbola dan pembangunan gedung stadion, pengelola juga menyediakan museum dan tayangan monitor LED ukuran besar untuk memanjakan penonton.
Diluar pertandingan akbar, pengelola menyediakan paket tour bagi pengunjung yg ingin melihat berbagai penjuru dan fasilitas stadion. Tentunya didampingi oleh tour guide yg disediakan pengelola.
Diluar pertandingan akbar, pengelola menyediakan paket tour bagi pengunjung yg ingin melihat berbagai penjuru dan fasilitas stadion. Tentunya didampingi oleh tour guide yg disediakan pengelola.
Sebelum ritual (pertandingan) dimulai, yel-yel fans pendukung membahana membakar suasana dan pembawa acara memberikan peringatan untuk menjaga ketertiban dan keamanan bersama. Apabila cuaca tidak bersahabat spt hujan lebat atau panas yg teramat sangat, jangan khawatir karena atap stadion (belum semua) dapat digerakkan secara otomatis menutup atau membuka langit-langit mengatur sirkulasi dan suhu udara yg dikehendaki.
Selanjutnya seluruh mata tertuju ke lapangan pertandingan memperhatikan si bola bundar memantul ditendang ke sana kemari oleh 22 orang pemain selama 90 menit. Prosesi perhelatan olah raga yg disukai manusia seantero jagad raya ini telah menjelma seperti agama bagi para pencandunya. Diliput oleh massmedia dan terpancar hingga ke pelosok dunia.
Wasit sebagai imam pertandingan diberi kewenangan menentukan nasib baik atau sialnya para pemain dalam memainkan perannya demi memenangkan pertandingan.
Ada yg menghalalkan segala cara termasuk meminjam tangan Tuhan utk memenangkan pertandingan atau berpura-pura mengerang kesakitan gak berketulungan untuk mendapatkan simpati dan belas kasihan wasit dgn hadiah diberikannya tendangan bebas atau memainkan drama kotor dan kasar guna mematikan liuk lelaku pemain lawan yg handal yg kerap membahayakan area pertahanan.
Ada yg menghalalkan segala cara termasuk meminjam tangan Tuhan utk memenangkan pertandingan atau berpura-pura mengerang kesakitan gak berketulungan untuk mendapatkan simpati dan belas kasihan wasit dgn hadiah diberikannya tendangan bebas atau memainkan drama kotor dan kasar guna mematikan liuk lelaku pemain lawan yg handal yg kerap membahayakan area pertahanan.
Setiap kali gol tercipta pemain melakukan selebrasi mengungkapkan kegembiraan dan rasa syukurnya dengan cara yg berbeda. Ada pemain yg tiba-tiba duduk dan sujud kehadirat ilahi. Ada yg menggerakkan ujung jari tangannya membentuk tanda salib sambil melafalkan sekeping doa kasih. Ada pula yang berjingkrak dan berteriak seperti ibu hamil yg sukses mengeluarkan jabang bayi dari peraduan rahimnya.
Penonton bersorak sorai kegirangan bila klubnya menang dan pendukung yg klubnya kalah menutup mukanya dengan kedua belah telapak tangan dengan mata berkaca- kaca.
Begitu sang imam (wasit) meniupkan pluit panjangnya maka selesailah sudah babak drama lakon permainan dan secara perlahan barisan semut menjadi rada beringas bersiap keluar dari labirin stadion.
Pendukung klub pemenang tidak sabaran mau keluar gedung stadion merayakan kemenangannya sambil berteriak histeris, bernyanyi hymne the championnya the queen. Sedangkan pendukung klub yg kalah pada lesu berjalan gontai dan lunglai ingin segera meninggalkan gedung sambil meratapi kekalahannya.
Di halaman luar gedung bertemulah dua jenis crowd yg extremely berbeda ini yaitu kelompok pemenang dan kelompok pecundang. Para fans pemenang mulai mencekik leher botol minuman sambil menari dan bernyanyi ditingkahi suara terompet dan toast semburat air champagne.
Yang kalah juga mulai mennyeruput botol minuman dengan gaya gak sabaran hingga tandas dan dengan kesal melempar botol kosong hingga berkeping-keping kemudian memesan botol baru sambil berjalan sempoyongan.
Keributan lumrah terjadi dan menjadi pemandangan yg lazim setiap akhir pertandingan. Selanjutnya riot police pun dengan sigap memecah konsentrasi, memilah dan memisahkan pihak yg bertikai. Ritual para pecandupun berakhir. Berbagai moda transportasi dgn malas mengangkut para maniak pulang ke rumahnya masing-masing ke segenap penjuru kota.
Tinggalah sampah dan pecahan kaca botol minuman yg berserakan di pelataran luar stadion. Saatnya para pasukan orange membersihkan piring kotor dan rimah makanan yg tersisa hasil pesta kemarin. Suasana stadion kembali seperti semula dan bersiap-siap mengadakan hajatan pesta berikutnya.
Kawan, dari penggalan cerita diatas, aku memang sengaja menyelipkan kata-kata bernuansa ibadah haji atau umroh dalam penyelenggaraan pertandingan sepakbola sebagai refleksi bahwa dalam kadar tertentu ternyata terdapat kesamaan antara prosesi ritual sepakbola dan ibadah tsb.
Keduanya mempunyai kesamaan yakni adanya keinginan kuat pengunjung berdatangan ke tempat tsb didorong oleh rasa kecintaan dan keikhlasan yg sangat mendalam. Bahkan mereka rela berkorban sekalipun harus menyabung nyawa pada saat prosesi demi melakoni ritual yg dicintainya. Akal sehat kadang ditepis untuk menunaikan hasrat hati karena mengunjunginya merupakan rangkaian peristiwa transedental dan bersifat private yg pada gilirannya menyatu dan saling berbahu.
Namun bagaimana feedback yg diterima kedua belah pihak pengunjung buah dari kecintaan dan keikhlasannya menghadiri event tersebut?
Kecintaan pendukung sepakbola sepertinya dapat terbayar dengan profesionalisme penyelenggara pertandingan dan pengelola gedung stadion seperti yg diuraikan diatas. Event pertandingan sepak bola walaupun menimbulkan kerawanan bentrok antar pendukung tapi dapat ditanggulangi secara apik oleh penyelenggara.
Pengunjung, penyelenggara dan pengelola sama-sama ikhlas menerima dan melakukan tugas dan tanggungjawabnya guna menyukseskan prosesi ritual event sesuai dengan porsinya.
Pengunjung, penyelenggara dan pengelola sama-sama ikhlas menerima dan melakukan tugas dan tanggungjawabnya guna menyukseskan prosesi ritual event sesuai dengan porsinya.
Bagaimana dengan ritual ibadah haji dan umroh ke Masjidil Haram?
Aku rasa kalian akan sependapat bahwa kecintaan akan peribadatan tersebut jauh lebih besar dari kecintaan penggemar sepakbola menyaksikan pertandingan akbar klub kesayangannya.
Namun apakah kecintaan calon jamaah berkunjung ke tanah suci tersebut sudah terbayar dengan profesionalisme penyelenggara maupun pengelola bangunan Masjidil Haram?
Aku rasa kalian juga akan sependapat bahwa profesionalisme penyelenggara dan pengelolanya belumlah seprofesional EO dari soccer bigmatch tsb. Tuntutan keikhlasan para jamaah yg sedang beribadah mengharapkan keridhoan Allah kerap terdengar dijadikan sbg tameng atas ketidakprofesionalan kinerja pengelola.
Pengalaman beribadah tahun lalu (maaf bukan utk ria ya) sebagai contoh. Saat mendarat dibandara haji Jeddah para jamaah harus antri selama 5 jam untuk pemeriksaan imigrasi. Kita dipaksa ikhlas menelan rasa lelah dengan kesabaran walaupun sebenarnya tidak ada kaitan antara lamanya antrian pemeriksaan dengan menjalankan ibadah.
Saat mengambil bagasi, ternyata barang tidak ditemukan. Setelah ditelusuri ternyata bagasinya ngacir ke terminal internasional lainnya. Kita diminta bersikap ikhlas menunggu bbrp hari utk diantar karena sedang beribadah ke tanah suci. Menuju kota Mekkah hanya tersedia transportasi bus, maka kita harus ikhlas menunggu keberangkatan yg agak lama.
Tiba di hotel yg jaraknya sebenarnya tidak begitu jauh dari masjidil haram. Lagi-lagi jamaah harus ikhlas berjalan kaki dibawah terik matahari yg memanggang kepala kalau mau pergi ke Masjidil Haram. Tidak tersedia pavement yg nyaman bagi pedesterian atau kereta commuter subway berpendingin udara menuju Kabah.
Begitu sampai dan akan memasuki pintu gate, lagi-lagi kita diwajibkan harus ikhlas berdesakan dgn jamaah lainnya yg ingin segera masuk melihat Kabah. Laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya bisa masuk ke dalam lorong gate yg sama. Dan pastinya tidak akan ada jamaah yg bentrok seperti para supporter sepak bola.
Lagi-lagi, ketidakprofesionalan selalu dibungkus dengan kata keikhlasan bagi jamaah. Sesama jamaah, keluarga, teman dan handai taulan selalu saling mengingatkan utk sabar dan ikhlas walaupun menghadapi ketidaknyamanan diluar prosesi peribadatan.
Kita tidak pernah menuntut pemerintah setempat menyediakan fasilitas yg lebih memadai karena kecintaan dan keikhlasan kita menjalankan ibadah ke tanah suci. Panasnya terik matahari pada hakikatnya adalah suatu anugerah ilahi di tanah suci karena dengan teknologi dapat diubah menjadi energi solar system untuk menggerakkan turbin pendingin udara dan pembangkit electricity.
Melihat bangunan yg mengelilingi Kabah saat ini, pengen rasanya aku membawa para insinyur yg membangun stadion Arena di Munchen, Camp Nou di Barcelona, Wembley atau Old Trafford di Inggris. Keuangan negara petro dollar dan benefit yg diperoleh dari kunjungan jamaah haji dan umroh sepanjang tahun rasanya tidak sulit utk membiayainya.
Tapi kan gak boleh bagi nonmuslim utk memasuki tanah haram? Kamu jangan ngaco, ini melanggar aturan agama!! Nah untuk hal ini bolehlah diberikan toleransi kawan. Selama para insinyur nonmuslim tsb tidak mengutak-utik Kabah, gak apa-apalah.
Toh saat nabi Muhammad setelah hijrah dari kota Madinah, pulang kembali dan menaklukkan kota Makkah tidak mengusir kaum kafir keluar meninggalkan kota tsb. Mengapa saat ini kita haramkan nonmuslim masuk ke kota Makkah untuk membantu membangun Masjidil Haram yg diharapkan dapat secanggih bahkan lebih canggih dari bangunan stadion terbaik di dunia.
Indonesia dapat sebagai role model, ketika seorang arsitek nonmuslim halak hita bernama Frederich Silaban pada tahun 1951 membangun Masjid Istiqlal yg megah dan terbesar di Asia Tenggara. Hingga kini bangunan masjid tsb masih berdiri anggun dan sangat sejuk bila kita beribadat di dalamnya.
http://catatanhermansyahsiregar.blogspot.com










Comments
Post a Comment